Setelah sepekan masuk bulan puasa dan libur semester karena semester satu di kampus telah berakhir, tiba-tiba seorang teman mengajak saya untuk berkunjung ke rumah salah satu pamannya. Dia mengatakan bahwa pamannya memiliki pekerjaan yang tersedia. Awalnya, saya mengira bahwa pekerjaan yang dimaksud mungkin bersifat kecil.
Ketika tiba hari yang dijadwalkan, kami pergi ke rumah pamannya. Ternyata, pamannya menawarkan pekerjaan kontrak selama 6 bulan untuk ditempatkan di kantor pusat dan kantor cabang Bank BRI di daerah Kota Medan sebagai Penginput Data Nasabah (Data Entry). Kami dipekerjakan melalui calo atau anak perusahaan Bank BRI yang dikenal sebagai BRIKS.
Kemudian, kami berdua setuju, dan saya segera memberi tahu ibu saya bahwa saya ingin pindah ke kelas sore. Namun, masalahnya adalah tidak ada kelas sore untuk Jurusan Teknik Informatika. Meskipun demikian, kelas sore untuk Jurusan Sistem Informasi tersedia. Saya memutuskan untuk langsung menghubungi dosen saya untuk meminta izin pindah ke Jurusan Sistem Informasi. Saat itu, saya masih baru mengenal dunia perkuliahan, terutama karena masa pandemi.
Pertimbangan saya pada saat itu lebih banyak terfokus pada penghasilan yang saya dapatkan dari pekerjaan baru ini. Tujuan sebenarnya adalah untuk menghasilkan uang selama kuliah, sehingga bisa membiayai kebutuhan harian saya saat kuliah setelah pandemi berakhir. Pada saat wawancara dengan teman saya yang lain, dia menyatakan bahwa orang tua nya tidak mengizinkannya bekerja sambil kuliah. Saat itu, saya mulai berpikir bahwa mungkin sudah waktunya untuk berpisah dengan sahabat saya itu karena dia akan memiliki teman-teman baru, dan kemungkinan besar kami akan jarang bertemu. Pikiran ini ternyata benar, dan sekarang kami hanya bertemu sekali dalam 2 bulan atau 1 bulan sekali.
Sungguh, setelah bekerja selama 6 bulan, saya berhasil mengumpulkan uang yang cukup lumayan bagi saya. Namun, pada suatu hari, saya mengambil keputusan bodoh yang sangat mempengaruhi hidup saya. Aplikasi trading berkedok judi yang viral dan trending tiba-tiba muncul. Para tokoh utama trading terlihat meraih keuntungan besar, dan teman saya ikut-ikutan. Dia menyebutkan bahwa dia mendapatkan keuntungan, dan saya, tergoda oleh iming-iming profit, ikut serta.
Sebagai orang dari latar belakang ekonomi bawah, masa kecil saya diwarnai dengan keinginan yang sulit terpenuhi. Meskipun hati menginginkan sesuatu, mulut selalu berkata bahwa hal tersebut tidak mungkin tercapai. Ketika melihat uang yang berhasil saya kumpulkan selama sebulan lenyap begitu saja, seperti ditelan oleh lubang hitam, saya merasa terpuruk. Uang tabungan saya, yang sudah berjumlah cukup signifikan, tiba-tiba hilang begitu saja akibat terjebak dalam dunia trading yang sebenarnya berisiko tinggi.
Saya mengalami stres dan depresi, meskipun saya berusaha untuk pura-pura baik-baik saja di depan orang lain. Hanya dua orang yang mengetahui bahwa saya benar-benar mengalami tekanan mental, yaitu ibu saya dan sahabat kecil saya. Saya merasa menjadi beban bagi keluarga saya karena uang saya yang sebelumnya cukup, kini benar-benar habis tanpa jejak. Situasi ini membuat saya merenung dan menyadari betapa pentingnya kebijaksanaan dalam mengelola keuangan dan tahan terhadap godaan yang merugikan.
Saya telah melewati waktu dengan berdiam diri di rumah dan menjalani kuliah secara online tanpa menghitung hari. Tanpa sadar, saya telah mencapai semester 6 dan mulai merenung tentang masa lalu ketika saya mengalami kejatuhan. Pada saat itu, saya sering bertanya-tanya mengapa dunia ini tidak adil dan mengapa saya harus mengalami hal tersebut.
Saya terus berpikir, mengapa orang lain bisa beruntung sementara saya tidak? Rasa keadilan sepertinya tidak ada pada saya. Pada suatu titik, saya mendapatkan pekerjaan di suatu percetakan sebagai desainer, sebuah kesempatan yang muncul berkat ajakan teman saya saat masih di SMK. Saya bekerja selama 6 bulan, karena pada saat itu saya bersiap untuk melakukan magang kuliah di semester 7. Saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan tersebut dengan baik dan memberikan makanan kepada teman-teman yang telah berbagi ilmu dan ruang dengan saya.
Meskipun masih terlintas pikiran yang kadang-kadang membuat saya galau, saya berusaha untuk ikhlas dan mengikhlaskan segala yang telah terjadi. Saya menyadari bahwa memberi makan kepada teman-teman adalah cara saya untuk bersyukur atas ilmu dan dukungan yang telah mereka berikan kepada saya, meskipun pikiran tentang masa lalu masih kadang menghantui pikiran saya.
Saya menulis blog ini ketika saya berada di semester 7, dan sebenarnya masih banyak pekerjaan lain yang telah saya lakukan sebelum saya bekerja di percetakan. Di antaranya, saya bekerja sebagai freelancer, seperti menjadi content creator di GoPlay (mendapatkan $90 selama 2 minggu), freelancer desain dengan hanya 2 kontrak, tapi lumayan untuk menutupi kebutuhan hidup saya, hehe.
Selain itu, saya juga pernah bekerja kasar sebagai tukang potong ayam, dipanggil karena hampir tahun baru, dan menjual gantungan kunci motif Methodist pada suatu waktu. Saya bahkan pernah menjadi koreografer di sebuah photostudio, dipanggil karena masa-masa wisuda. Saya juga pernah menjadi anggota tim hitung cepat dan ikut demo, meskipun saya tidak mendaftar di partai politik atau menjadi anggota tetap. Pada demo terakhir, saya hanya duduk sambil melihat orang-orang berkoar-koar. Itu adalah kali pertama saya merasa menjadi bagian dari suatu kelompok, dan saya dan teman saya tertawa puas atas pengalaman itu.
Namun, dalam semua pekerjaan tersebut, saya selalu merasa menjadi anggota (ekor) dan tidak pernah menjadi kepala. Dalam blog ini, saya ingin memulai langkah-langkah untuk menjadi seorang pemimpin. Saya ingin belajar apa yang harus saya lakukan agar bisa menjadi kepala. Satu hal lagi yang ingin saya ceritakan adalah pekerjaan saya di BRIKS dan percetakan. Saya merasa bodoh karena tidak meminta surat referensi setelah bekerja di sana. T_T
Comments
Post a Comment